Dinamika Partisipasi Pemilih di Kota Medan Analisis dan Proyeksi

Dinamika Partisipasi Pemilih di Kota Medan Analisis dan Proyeksi

1. Pengantar

Pesta demokrasi Pilkada Serentak tahun 2020 di 270 daerah (termasuk Kota Medan) di tengah masih mewabahnya bencana nonalam  Corona Virus Disease 19 (Covid 19) selesai  dilaksanakan. Sebelumnya , pada tahun 2019, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Legislatif juga usai digelar.  Kedua pesta perhelatan demokrasi ini dapat dilaksanakan dengan baik  dan berlangsung cukup aman dan lancar dengan tingkat partisipasi yang cukup siginifikan.  Paling tidak untuk Kota Medan Pemilu tahun 2019 menghasilkan angka partisipasi sebesar 74.20 % untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan 73,67 % untuk Pemilihan DPRD Kota Medan. Ada peningkatan angka partisipasi yang cukup tajam dari Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif  tahun 2014.  Demikian juga dengan Pilkada serentak tahun 2020, di mana ada peningkatan atau selisih angka partispasi yang cukup besar khusunya di Kota Medan dari tahun 2015 ke tahun 2020, yakni gab atau jarak angka partisipasi sebesar 20.42 %. Sebagaimana diketahui angka partisipasi Pilwako Medan pada tahun 2015 sebesar 25.38 % sedangkan pada tahun 2020 sebesar 45.80 %. Selisih angka kenaikan ini tercatat sebagai 5 tertinggi di Indonesia bila diperhadapkan pada angka partisipasi tahun 2015.

Dua momentum pesta demokrasi di atas  berhasil dilaksanakan dengan sukses, aman dan lancar membuktikan bahwa masyarakat di negri ini, khususnya di Kota Medan  memiliki kesadaran  dan antusias yang cukup tinggi serta mendukung proses demokrasi yang berlangsung, dan menjalaninya dengan penuh kesadaran walau di tengah situasi Pandemi bencana nonalam Covid 19. Jika Pemilu 2019, dilaksanakan dengan 5 surat suara, di mana rakyat memilih sekaligus Presiden Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Sedangkan Pemilihan pada tahun 2020 merupakan Pemilihan Kepala Daerah serentak yang berlangsung di tengah masih merebaknya bencana nonalam Covid 19, menjadikan pesta demokrasi ini  menjadi sangat  penuh tantangan; apakah pemilih akan berani datang ke TPS  sekaligus kekhawatiran jika KPU dituduh sebagai pemicu munculnya cluster baru Covid 19. Pelaksanaan Pemilihan di tengah bencana nonalam Covid 19 menjadikan tahapan pelaksanaan pesta demokrasi dirasakan sangat penuh resiko dan berharap agar proses tahapan pemilihan berlangsung lancar dan penyelenggara Pemilihan tetap diberi kesehatan dan terhindar dari bencana nonalam Covid 19.

2. Sanding dan Banding Data

Melihat pada proses dan hasil pada Pemilihan dan Pemilu di Kota Medan 16 tahun terakhir (2004 – 2020) tentunya  menarik untuk menyandingkan sekaligus membandingkan tampilan data dengan pemilihan sebelumnya khususnya pada level yang sama, yakni Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan; Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut; Pemilu Presiden dan Wakil Presiden; dan Pemilu Legilslatif , baik DPR RI, DPD RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten.

Ada fakta yang menarik bahwa trend kehadiran Pemilh di Kota Medan pada setiap Pemilihan  kepala daerah, baik itu Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Walikota dan Wakil Walikota cendrung menurun dengan catatan bahwa kehadiran Pemilih di Pilwako Medan lebih rendah di bandingkan dengan Pilgub. Sebaliknya kehadiran Pemilih dalam Pemilu (Presiden dan Wakil Presiden maupun Legislatif) relative lebih tinggi bila dibandingkan dengan Pemilihan Kepala Daerah sebagaimana tampilan matriks di bawah ini :

Sumber : Data KPU Medan,  2021

Sumber : Data KPU Medan,  2021

Tampilan matriks dan infografis di atas memberikan informasi yang cukup penting untuk melihat dan menganalisis pola grafik yang ada. Terlihat bahwa pada setiap Pemilu yang bersifat nasional, trend kehadiran pemilih di TPS relatif cukup tinggi. Hal ini sebagaimana terlihat pada Pemilu Legislatif (Pileg)  tahun 2004 yang menunjukkan angka partisipasi mencapai 78.21 %  capaian angka partisipasi tertinggi yang diraih selama kurun waktu 15 tahun. Namun pada Pileg Tahun 2009 angka partisipasi menurun drastis hingga  47.44 %, selisih mencapai 30.77 %.  Pada Pileg tahun 2014 kehadiran pemilih naik sedikit mencapai angka 51.83 %. Selanjutnya pada Pileg tahun 2019 angka partisipasi pemilih meningkat tajam mencapai angka partisipasi 73,67 %, Ada selisih angka lebih rendah sebesar  4.54 % antara Pileg tahun 2004 dengan Pileg tahun 2019. Sementara, angka partisipasi untuk DPRD Propinsi tercatat sebesar 73,27 %;  untuk DPR RI sebesar 73,81 % serta DPD RI 73,95 % pada Pileg Tahun 2019.

Pada Pemilu Presiden tahun 2004 kehadiran pemilih di TPS menunjukkan angka partisipasi yang variatif antara Putaran I maupun Putaran II, yakni 66.56 % dan 62.59 %. Pemilu Presiden tahun 2009, partisipasi pemilih mencapai 52.35 %, ada selisih 10,24 % lebih rendah dari Pemilu tahun 2004. Selanjutnya pada Pemilu Presiden tahun 2014, partisipasi pemilih mencapai 55,59 %, terdapat kenaikan 3,24 % dari Pemilu tahun 2009. Pada Pemilu Presiden tahun 2019 kehadiran pemilih di TPS sebanyak 74.20 %, selisih kenaikan  11,61 % dengan  Pemilu Presiden tahun 2004 putaran II.

Tampilan angka partisipasi pemilih pada setiap Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden relatif tinggi. Jika pada tahun 2004 angka partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif yakni 78.21 % sedangkan  pada tahun 2019 angka partisipasi pemililih yang tinggi terlihat pada Pemilu Presiden yakni mencaoai 74.20 %.  Artinya selama 15 tahun terakhir (2004 – 2019)  ada pola yang menggambarkan trend  kenaikan angka partisipasi pemilih atau kehadiran pemilih ke TPS pada setiap Pemilu atau Pemilihan di Kota Medan. Kesimpulan bahwa pada saat berlangsungnya Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif, pemilih di Kota Medan cendrung menunjukkan angka partisipasi yang tinggi walau tetap saja tidak sampai mencapai target secara nasional. Sepertinya pola ini akan kembali berulang pada momentum Pemilu yang sama, yakni Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada masa masa yang akan datang.

Sebaliknya pada Pemilihan Kepala Daerah, baik Pilgub maupun Pilwako, trend angka partisipasi dan kehadiran pemilih di Kota Medan cendrung mengalami penurunan secara tajam. Dari matriks dan infografis yang ada terlihat bahwa trend angka partisipasi pemilih tidak pernah mencapai angka 60 % . Artinya bahwa masyarakat tidak begitu tertarik atau tidak peduli dengan Pemilihan kepala daerah, baik itu Gubernur maupun Walikota. Dari beberapa kali pemililihan Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Walikota dan Wakil Walikota  angka kehadiran pemilih ke TPS cendrung mengalami penurunan.

Pilwako tahun 2005, angka partisipasi mencapai angka 54.70 %. Ini merupakan angka partisipasi yang cukup tinggi selama berlangsungnya Pilwako di Kota Medan pada 15 tahun terakhir. Namun, pada Pilwako 2010 yang berlangsung dua putaran, angka partisipasi pemilih mulai menurun. Pada putaran I angka partisipasi pemilih sebesar 35.68 % dan pada putaran II sebesar 38.28 %. Pada Pilwako tahun 2015 angka partisipasi pemilih di Kota Medan  menunjukkan penurunan yang semakin tajam, yakni 25.38 %, terendah dalam sejarah Pemilihan di Indonesia sehingga  Kota Medan mendapat sorotan secara nasional terkait rendahnya partisipasi pemilih. Episode Pemilihan selanjutnya adalah Pilwako tahun 2020 yang berlangsung ditengah merebaknya bencana nonalam Pandemi Covid 19, dan Pilwako Medan 2020 sukses digelar dengan capaian angka partiisipasi pemilih sebesar 45.80 %. Sebuah capaian angka partisipasi yang diluar dugaan sama sekali. Ada selisih kenaikan sebesar 20.42 % dari Pilwako tahun 2015. Selisih kenaikan  ini termasuk 5 besar  di Indonesia berdasarkan catatan KPU RI. Meski tidak mencapai target nasional sebesar 77.5 %, namun angka partisipasi pemilih di Pilwako Medan tahun 2020 merupakan sebuah sukses luar biasa ditengah penyelenggaraan Pilkada yang berlangsung ditengah Pandemi Covid 19 masih merebak.

3. Analisis dan Kesimpulan

Dinamika angka partisipasi Kota Medan pada 15 tahun terakhir menunjukkan pergerakan yang cukup menarik untuk dicermati. Paling tidak dari matrik dan infografik yang tergambar di atas,  terlihat ada pola yang cendrung berulang sehingga grafik menampilkan pola melandai di bagian tengah sebagai pertanda rendahnya grafik angka partisipasi. Sementara di bagian sisi kanan dan sisi kiri  grafik, tampilan grafik cendrung meninggi dan hampir merata. Sehingga secara umum terlihat, pergerakan grafik menampilkan pola dari tinggi ke rendah dan berhenti di titik tengah.  Pemilu tahun 2013, sebagai pusat median, dan berada ditengah kemudian secara perlahan tapi pasti, grafik mulai menunjukkan kenaikan secara baik, meski kemudian menurun secara ekstrem di pada Pemilihan Walikota tahun 2015. Namun pada  3 momentum Pemilihan berikutnya, tepatnya  pada Pilgub 2018, grafik menaik tajam . Trend ini terus menaik dan cendrung sejajar di tahun 2019.

Dari tampilan infografik yang ada,  dinamika tingkat partisipasi di Kota Medan menunjukkan suatu pola yang progresif  fluktuatif.  Artinya menggambarkan tingkat partisipasi yang bergerak cukup dinamis dan progresif.  Namun tetap menampilkan pola yang ajeg dan konsisten,  di mana tingkat Partisipasi Pemilihan (Pemilihan Kepala Daerah)  selalu  lebih rendah dari tingkat  Partisipasi Pemilu (yang bersifat nasional) , dan pola ini  tampaknya cendrung berulang pada fase Pemilu dan Pemilihan  yang sama. Perlu ada upaya atau treatmen khusus untuk memacu tingkat partisipasi Pemilih di Kota Medan agar semakin membaik. Paling tidak untuk mengurangi daerah cekungan yang menggambarkan grafik partisipasi yang cendrung rendah. Semoga trend infografik  tingkat partisipasi pemilih yang ada masih bisa berubah  menuju  ke arah yang lebih baik pada Pemilu dan Pemilihan  yang akan datang.

 

Oleh : Edy Suhartono Komisoner KPU Medan, Kordinator Divisi SDM dan Parmas Periode 2018-2023

Artikel sudah ditayangkan di Harian Analisa, pada Sabtu, 14 Agustus 2021

COMMENTS