Breaking News

Menakar Kadar Partisipasi Pemilih di Kota Medan dalam

Menyongsong Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota tahun  2020

 

Edy Suhartono[i]

Intro

Menyongsong Pilkada Walikota dan Wakil Walikota Medan yang sebentar lagi akan memasuk tahapan penulis merasa perlu untuk merefleksikan harapan dan rasa terkait momentum Pilkada Kota Medan yang akan datang. Akankah tragedi 2105 bakal terulang kembali, yakni anjloknya angka kehadiran warga ke TPS, yang hanya  25.38 %  dan tercatat terendah di seluruh Indonesia; atau barangkali ada proses perubahan yang lebih baik mengingat capaian angka partisipasi pemilih yang cukup tajam pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif tahun 2019, yang mencapai angka  74.20 %. Mesikipun angka ini tidak mencapai target nasional 77.5 % . Namun angka partisipasi yang diraih pada Pemilu 2019 tergolong cukup progresif pada rentang waktu 10 tahun terakhir.

Di tengah persiapan menghadapi momentum Pemilihan Kepala Daerah serentak yang sebentar lagi akan segera memasuki tahapan,  tentunya  menariik untuk menyandingkan sekaligus membandingkannya dengan pemilihan sebelumnya khususnya pada level yang sama , yakni Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan tahun 2015 yang lalu. Ada fakta yang menarik bahwa trend kehadiran Pemilh di Kota Medan pada setiap Pemilihan  kepala daerah, baik itu Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Walikota dan Wakil Walikota cendrung menurrun. Hal ini sebagaiman terpapar  dalam matriks dan bagan di bawah ini:

 

NO PEMILU/PILKADA KOTA MEDAN HARI DAN TANGGAL PEMILU/PILKADA
KOTA MEDAN
JUMLAH
PEMILIH /DPT
JUMLAH PEMILIH
YANG MENGGUNAKAN HAK PILIH
PERSENTASE JUMLAH PEMILIH
YANG MENGGUNAKAN HAK PILIH
(%)
JUMLAH PEMILIH
YANG TIDAK MENGGUNAKAN HAK PILIH
PERSENTASE JUMLAH PEMILIH
YANG TIDAK MENGGUNAKAN HAK PILIH
(%)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2004 Senin, 5 April 2004  1.385.140            1.083.283 78,21%                 301.857 21,79%
2 PEMILU PRESIDEN TAHUN 2004 PUTARAN I Senin, 5 Juli 2004  1.513.109            1.007.074 66,56%                 506.035 33,44%
3 PEMILU PRESIDEN TAHUN 2004 PUTARAN II Senin, 20 September 2004  1.518.640               950.549 62,59%                 568.091 37,41%
4 PILKADA WALIKOTA MEDAN TAHUN 2005 Senin, 27 Juni 2005  1.450.596               793.529 54,70%                 657.067 45,30%
5 PILKADA GUBERNUR TAHUN 2008 Rabu, 16 April 2008  1.725.045               812.454 47,10%                 912.591 52,90%
6 PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2009 Kamis, 9 April 2009  1.854.001               879.591 47,44%                 974.410 52,56%
7 PEMILU PRESIDEN TAHUN 2009 Rabu, 8 Juli 2009  1.929.206            1.009.963 52,35%                 919.243 47,65%
8 PILKADA WALIKOTA MEDAN TAHUN 2010 PUTARAN I Rabu, 12 Mei 2010  1.961.837               699.991 35,68%              1.261.846 64,32%
9 PILKADA WALIKOTA MEDAN TAHUN 2010 PUTARAN II Rabu, 16 Juni 2010  1.961.723               750.919 38,28%              1.210.804 61,72%
10 PILKADA GUBERNUR TAHUN 2013 Kamis, 7 Maret 2013  2.123.878               776.920 36,58%              1.346.958 63,42%
11 PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014 Rabu, 9 April 2014  1.767.247               915.903 51,83%                 851.344 48,17%
12 PEMILU PRESIDEN TAHUN 2014 Rabu, 9 Juli 2014  1.838.080            1.021.861 55,59%                 816.219 44,41%
13 PEMILIHAN WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA
MEDAN TAHUN 2015
Rabu, 9 Desember 2015  1.998.835               507.351 25,38%              1.491.484 74,62%
14 PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR SUMATERA UTARA TAHUN 2018 DI KOTA MEDAN Rabu, 27 Juli 2018  1.641.648               916.109 55,80%                 725.539 44,20%
15 PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2019 Rabu, 17 April 2019 1.614.673            1.198.049 74,20% 416.624 25,80%
16 PEMILIHAN UMUM DPR TAHUN 2019 Rabu, 17 April 2019 1.614.673            1.191.816 73,81% 422.857 26,19%
17 PEMILIHAN UMUM DPD TAHUN 2019 Rabu, 17 April 2019 1.614.673            1.193.971 73,95% 420.702 26,05%
18 PEMILIHANUMUM DPRD PROVINSI TAHUN 2019 Rabu, 17 April 2019 1.614.673            1.190.402 73,72% 424.271 26,28%
19 PEMILIHAN UMUM DPRD KAB/KOTA TAHUN 2019 Rabu, 17 April 2019 1.614.673            1.189.507 73,67% 425.166 26,33%

Sumber : Data Olahan KPU  Kota Medan, 2019

 

 

Makna Tampilan Matriks

Dari tampilan matriks di atas menggambarkan dinamika dan trend kehadiran pemilih ke TPS pada setiap Pilakda yang berlangsung di Kota Medan pada 15 tahun terakhir. Tampilan ini secara infografis menunjukkan pola yang menarik untuk dipelajari  sehingga bisa dijadikan alat analisis untuk melihat  trend kehadiran pemilih pada Pilkada yang akan datang. Pada beberapa pemilihan Walikota terlihat tampilan angka dalam matriks yang tidak pernah mencapai angka 60%. Angka tertinggi partiispasi ada pada pemiluhan Walikota dan Wakil Walikota tahun 2005 yakni: 54,70 %. Selebihnya angka partiispasi mengalami anjlok hingga ke tiitik nadir pada tahun 2015 di angka 25.38 %. Pada tahun 2010 pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan meski berlagsung 2 putaran namun angka partisipasi masih  di bawah 40 %. Demikian pula pada angka partisipasi pada Pemiluhan Gubenur tahun 2013, tampilan angka dalam matriks menunjukkan angka partisiasi  yang kurang lebh sama pada Pilwako tahun 2010.  Tentunya proses untuk memahami pola ini tidak terlepas dari berbagai faktor lain yang memperngaruhinya.  Secara infografis, tampilan angka partisipasi atau kehadiran pemilih ke TPS dapat dilihat pada infografik di bawah ini :

Makna Tampilan Infografis

Tampilan infografis di atas manarik  untuk pola grafis yang ada. Terlihat bahwa pada setiap Pemilu yang bersifat nasional, trend kehadiran pemilih relatif cukup tinggi. Hal ini sebagaimana terlihat pada Pemilu Legislatif tahun 2004 yang menunjukkan angka partisipasi mencapai 78.21 %  capaian angka partisipasi tertinggi yang diraih selama kurun waktu 15 tahun. Namun pada Pemilu Presiden tahun 2004 menunjujkkan angka partisipasi yang rendah baik pada Putaran I maupun Putaran II, yakni 66.56 % dan 62.59 %. Lima tahun kemudian, pada Pemilu  Legislatif dan Presiden tahun 2009  angka partisipasi pemilih di Kota Medan cendrung menurun yakni 47.44 %  untuk Pemilu Legislatif dan 52.35 % untuk Pemilu Presiden. Namun pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2014 angka kehadiran pemilih di TPS mengalami kenaikan , yakni 51.83 % untuk Pemilu Legislatif dan 55.59 % untuk  Pemilu Presiden. Angka kehadiran pemilih ke TPS menunjukkan trend yang semakin meningkat pada Pemilu Presiden dan Pemilu Legsilatif tahun 2019 yang dilaksanakan secara serentak secara nasional. Untuk Kota Medan angka kehadiran Pemilih ke TPS menunjukkan angka 74.20 % pada Pemilihan  Presiden dan Wakil Presiden. Selanjutnya angka kehadiran untuk Pemilu Legislatifif masing masing DPR RI sebesar 73.81 %; DPD sebesar 73.95 % , DPRD Propinsi 73.72 % dan DPRD Kota sebesar 73.67 %.    Jika pada tahuin 2004 angka partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif cukup tinggi yakni 78.21 % sedangkan  pada tahun 2019 angka partisipasi pemililih yang tinggi terlihat pada Pemilu Presiden yakni mencaoai 74.20 %.  Artinya selama 15 tahun terakhir (2004 – 2019)  ada pola yang ajeg yang  menggambarkan trend  angka partisipasi pemilih di Kota Medan pada Pemilu Presiden dan Waki Presiden serta Pemilu Legislatif.  Kesimpulannya jelas   bahwa pada  Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif, pemilih di Kota Medan menunjukkan partiisipasi yang cukup timggi walau tidak sampai mencapai target secara nasional. Pola in tampaknya  kembali berulang pada momentum Pemilu yang sama, yakni Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2019.  Secara kwantitatif, tampilan angka partisipasi pemilih di Kota Medan pada setiap Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dapat disimpulkan cendrung tinggi. Secara kwalitatif hal ini dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk kesadaran pemilih terhadap kehidupan demokasi yang ada di negeri ini khususnya dalam rangka memilih pemimpin, Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif.

 

Sebaliknya pada Pemilihan Kepala Daerah, baik Pilgub maupun Pilwako, trend angka partisiopasi dan kehadiran pemilih di Kota Medan cendrung mengalami penurunan secara tajam. Dari infografis yang ada terlihat bahwa trend angka partisipasi pemilih tiak pernah mencapai angka 60 % . Artinya bahwa masyarakat tidak begitu tertarik atau peduli dengan Pemilihan kepala daerah, baik itu Gubernur maupun Walikota. Dari beberapa kali pemililihan Gubernur dan Wakil Guberur maupun Walikota dan Wakil Waalikotab angka kehadiran pemilih ke TPS cendrung menurun tajam. Pada Pilwako tahun 2005, angka partisipasi menembus angka 54.70 %, sedangkan Pilgub tahun 2008 angka partisipasi sebesar 47.10 %. Selanjutnya Pilwako 2010 yang berlangsung dua putaran, angka partisipasi pemilih semakin menurun. Pada putaran I angka partisipasi pemilih sebesar 35.68 % dan pada putaran II sebesar 38.28 %. Sementara pada Pilgub 2013 angka partisipasi pemilih berada di angka 36.58 %, lebih rendah dari Pilgub 2008. Selanjutnya pada Pilwako tahun 2015 angka partisipasi pemilih menunjukkan penuruanan yang semakin tajam, yakni 25.38 %, terendah dalam sejarah Pemilihan di Indonesia. Pada Pilgub tahun 2018, angka partisiipasi pemililh  mengalami peningkatan, yakni mencapai 55.80 %.  Daritampilan grafis Pemilihan Kepala Daerah di Kota Medan (baik Pilgub maupun Pilkwako) menampilkan pola yang tidak biasanya, khususnyab pada tampila grafik tahun 2015, di mana derajat angka partisipasi pemilih mengalami keanjlokan secara signifikan.  Pola ini sesuatu yang tidak biasa atau menyimpang, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Kalau hanya sekdar membaca grafik yang ada., tampilan angka partisipasi yajg rendah pada Pilwako baik tahun 2010 maupun tahun 2015 sebenarnyua sudah bisa diprediksi, karena masih tampilnya petahana dalam  proses kontestasi.  Masyarakat pemilih tentunya masih dibayangin oleh peristiwa pemilihan yang sebelumnya dengan calon yang juga sama ditambah dengan prestasi yang dirasakan selama petahana menjabat Inilah yang pada akhirnnya mempengaruhi  keputusan pemilih untuk memilih dan tidak memilih pada Pilkwako 2015. Paling tidak ada 3 aspek orientasi yang mempengaruhi prilaku pemilih untuk memilih dan tidak memilih menurut Svitaylo (2014:940), yakni  Pertama orientasi kognitive (reason); kedua orientasi afekrtif (emotion) dan ketiga orientasi evaluasi (evaluation) yang merupakan kombinasi antara rasionalitas (kognitif) dan emosional  (afektif). Pada orientasi evaluasi inilah yang pada akhirnya mendorong  prilaku pemilih untuk memilih dan tidak memilih partai atau kandidat.

 

Kesimpulan

Menyorot pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Medan tahun 2015 yang lalu, ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama  yang berguna untuk melihat proses dan progres serta proyeksi  Pilkada Walikota yang akan datang. Setidaknya ada beberapa permasalahan yang menarik untuk dilihat, yakni:  Pertama masalah  data pemilih tetap (DPT); Kedua masalah Sosialisasi  dan Kampanye; Ketiga masalah manajemen logsitik  Keempat masalah SDM penyelenggara serta Kelima masalah sosok calon . Inilah lima issu krusial yang mungkin akan dihadapi dalam penyelenggaraan Pilkada Walikota di Kota Medan  tahun 2020 yang tentunya akan berdampak pula pada capaian angka partisipasi.

 

Pada Pilwako tahun 2015 daftar pemilih tetap (DPT) di Kota Medan tercatat sebanyak 1.998.835 juta yang ini berimplikasi pada besarnya  bilang pembagi pemilih. Jumlah daftar pemilih tetap Kota Medan ini diperoleh setelah melalui berbagai tahapan proses dan alur pendataan yang cukup panjang. Tahapan proses pendataan ini boleh dibilang berlangsung cukup lama hingga menjelag ditetapkannya jumlah DPT   secara nasional.  Beberapa masalah yang muncul terkait masalah DPT ini salah satunya adalah masih ditemukannya kegandaan data pemilih seeta nama pemilih yang sudah meninggal muncul kembali dalam Sidalih (Sistem Data Pemilih).   Gencarnya sosialisasi yang dilakukan ternyata tidak menjamin bahwa masyarakat akan datang ke TPS. Hal ini terbukti pada Pilwako tahun 2015 hanya 25.38 % pemilih yang memberikan hak pilihnya diTPS atau sebanyak 507.351 pemilih  dari total jumlah pemilih sebanyak 1.998.835. Kondisi yang demikian ini tentunya menjadi tantangan bagi  penyelenggara untuk bisa lebih meningkatkan angka partisipasi pemilih. Merefelksi dari kegiuatan sosisliasai yang ada, pada dasaranya siudah menggnakan segala cara bahwa dengan pendekatan yang bewrsifat TSM (terstruktur, sistematis dan massif) namun tetap saja pada hari H Pencoblosan , sedikit warga yang hadir ke TPS, selebiihnya  memilih untuk bepergian liburan atau memilih tetap dirumah. Inilah realitas yang terpapar pada pesta demokrasi Pilwako Kota Medan tahun 2015. Hari Pencoblosan  yang selalu ditandai dengan libur nasional sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat  untuk tidak hadir pada saat hari pemilihan. Hari pemilihan tidak lagi dianggap sakral sehingga harus dijaga dan dihargai serta dimaknai sebagai suatu yang benar benar penting  bagi seluruh rakyat di negeri ini, karena pada hari itu merupakan hari untuk memilih pemimpin yang dipercaya memimpin negeri ini untuk periode lima tahun ke depan.

 

Desakralisasi hari Pemilihan  telah berlangsung secara tanpa disadari. Artinya Pemilu atau hari Pemilihan tidak lagi dianggap menjadi sesuatu yang penting apalagi sakral. Padahal pemerintah telah menetapkan sebagai hari libur secara nasional. Hal ini   berbeda pada saat masyarakat menyambut  hari libur lebaran atau tahun baru di mana  warga masyarakat begitu antusias dan jauh  hari sebelumnya sudah  menyiapkan diri  untuk menyambut hari tersebut. Hari Raya misalnya, menjadi sebuah momentum yang benar benar dimaknai oleh warga masyarakat sebagai moment yang penting dan sakral. Demikian juga halnya ketika  menyambut Natal dan Tahun Baru.   Realitas paradoks terlihat manakala berlangsung hari pencoblosan sebagaimana yang  tergambar di Kota Medan. Dari beberapa kali  proses pemilihan kepala daerah baik Gubernur maupun Walikota di daerah ini kehadiran pemilih terlihat sangat minim. Tentunya kita berharap hal tidak terjadi lagi pada Pemilihan yang akan datang.

 

Tulisan ini dengan tampilan data matriksa dan infografis di atas, sesungguhnya ingin menakar kadar kesadaran  pemilih di Kota Medan  Akankah Pilkada Kota Medan 2020 yang akan datang kembali menampilkan angka dan pola yang sama dengan Pemilihan sebelumnya. Satu hal yang pasti, bahwa angka partisipasi pemilih di  Kota Medan tidak  pernah mencapai angka  sesuai target nasional. Dari tampilan angka partisipasi selama rentang waktu 15 tahun teraklhir  terlihat bahwa bobot  kesadaran warga untuk berpartisipasi dalam pemilihan ternyata jauh lebih tinggi  pada saat pemilihan di tingkat nasonal (Pemilu Presiden dan Legislatif) ketimbang pemilihan di tingkat daerah (Pilkada Gubernur dan Walikota). Demikian.

       

Timber by EMSIEN 3 Ltd BG
Perbesar Huruf
Pilih Warna Kontras