Strategi Sosialisasi Pada Masyarakat Multikultur Menyongsong Pilkada Kota Medan 2020

Strategi Sosialisasi Pada Masyarakat Multikultur Menyongsong Pilkada Kota Medan 2020

Intro

Belajar dari pesta demokrasi yang dilaksanakan di Kota Medan pada beberapa pemilihan sebelumnya di mana angka partisipasi menunjukkan trend yang semakin rendah khsusunya pada Pemilihan Kepala Daearah baik Gubernur dan Wakil Gubenur maupun Walikota dan Wakil Walikota, ,tentu menarik untuk melihat sekaligus merefleksikan kembali metode dan strategi yang digunakan sebelumnya.

Hal ini penting untuk mendapat gambaran strategi yang benar benar pas untuk diterapkan pada kegiatan sosialisasi pada masa yang akan datang khususnya pada masyarakat Kota Medan yang sebentar lagi akan memasuki tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah, tepatnya 23 September 2020.
Adalah penting untuk merefleksikan kembali kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan pada kegiatan pemilihan sebelumnya. Merefleksikan kegiatan sosialisasi ini penting untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang strategi apa yang yang benar benar tepat sehingga memberi dampak positif bagi peningkatan wawasan masyarakat sekaligus ingin memastikan bahwa pemilih sadar untuk mau hadir di TPS memberikan hak suaranya pada saat hari pencoblosan. Dari hasil refleksi ini nantinya diharapkan Strategi apa yang seharusnya diterapkan pada masyarakat multikultur di Kota Medan.

Sosialisasi

Sosialisasi adalah bagian dari proses belajar tentang kebudayaan dalam hubungannya dengan sistem sosial. Dalam proses ini seorang individu dari masa anak anak hingga masa tuanya belajar pola pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang ada dalam kehidupapan sehari hari (Koentjaraningrat, hlm 229, 1986).
Terkait dengan proses sosialisasi pada setiap kegiatan Pilkada, defenisi mengenai konsep sosialisasi di atas tampaknya masih relevan untuk dijadikan dasar rujukan. Paling tidak untuk menjelaskan relasi antara sosialisasi sebagai sebuah prosess sosial, dan belajar tentang budaya sebagai sebuah konsep (cultural learning process).

Sosialisasi sebagai sebuah proses sosial ingin menggambarkan adanya proses interaksi antara indvdu dengan invdivdu lainnya dalam suatu kegiatan maupun aktftas keseharian. Proses interaksi terjadi jika ada dua orang atau lebih saling berhubungan baik dalam bentuk komunikasi lisan langsung,seperti dialog, diskusi, ceramah maupun komunikasi dalam bentuk tulisan.

Dalam kegiatan sosialisasi Pemilu proses komunikasi yang berlangsung biasanya selain dilakukan dengan cara ceramah maupun dialog, juga dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media dan alat peraga yang yang dipasang di lokasi lokasi yang gampang dibaca oleh publik dan bertujuan untuk menyampaikan pesan dan informasi agar lebih mudah dipahami oleh mayarakat penerima informasi.
Secara umum biasanya proses sosialisasi lebih banyak dilakukan dengan ceramah dan dialog serta penggunaan media sebagai alat penyampai pesan yang mau disampaikan. baik tertulis maupun lisan. Yang penting adalah pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh masyarakat dengan berbagai latar belakang yang ada.

Salah satu unsur terpenting dalam proses sosialisasi adalah dengan cara melakukan komunikasi. Dalam kaitan ini, Edward T. Hall dalam bukunya yang berjudul The Silent Language (1959) menyatakan bahwa komunikasi adalah alat yang jitu untuk menembus kotak-kotak masyarakat. Lebih jauh Edward T Hall mengatakan bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan. Pendapat ini mempertegas bahwa suatu komunitas manusia tidak bisa terbangun tanpa adanya komunikasi. Budaya sendiri tercipta karena komunikasi yang juga terbangun dari komunitas manusia.

Strategi Sosialisasi

Sumatera Utara dengan latar belakang masyarakat yang sangat beragam (majemuk) selain menghadapai masalah etnosentrismne, tapi juga tentunya sangat beragam dalam memahami dan memaknai masalah komunikasi. Perbedaan itu merupakan akibat dari perbedaan adat istiadat yang dimiliki. Keberbedaan ini dapat memicu miskomunikasi bahkan pada tingkat yang paling ekstrem perpecahan yang mengarah pada disintegrasi. Medan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara meski masyarakat diwarnai oleh realitas multikultur, namun pada dasarnya tidak ada budaya yang dominan (dominant culture) di Kota Medan. Masing masing etnik mengalami pengelompokan dan berada dalam satu lokasi tempat tinggal yang sama maupun dalam pemukiman yang saling berbaur . Pola pemukiman etnik yang segregatif dan menyebar menjadi ciri khas dari keberagaman di kota ini.

Beberapa etnik yang ada di kota ini, yakni Melayu, Batak (Toba, Mandaliling, Karo, Simalungun, Pakpak Dairi), Jawa, Minangkabau, Aceh, Cina, India/Tamil, Arab, dsb. Keberagaman ini merupakan potensi modal sosial (social capital) yang berguna unuk membangun daerah ini.

Oleh karenanya dapat dipahami jika ada permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) seringkali bersumber dari masalah komunikasi, kesenjangan tingkat pengetahuan, status sosial, geografis serta adat kebiasaan. Hal ini dapat merupakan kendala bagi tercapainya suatu konsensus yang perlu disepakati dan selanjutnya ditaati secara luas. Hal inilah yang kemudian dirasa perlu untuk mengulas tentang makna-makna yang sama dalam melihat proses sosialisasi Pemilu sebagai komunikasi antar budaya dalam masyarakat yang majemuk

Jadi jelas bahwa proses sosialisasi yang disampaikam oleh pihak yang terkait adalah dimaksudkan agar masyarakat dengan latar belakang yang berbeda paham apa yang akan disampaikan baik dengan menggunakan bahasa maupun simbol serta tata cara yang telah ditetapkan..Intinya adalah agar proses sosialisasi lebih gampang dimengerti dan dipahami maka perlu disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang akan menjadi target sosialisasi. Dengan demikian diaharapkan dapat dijembatani perbedaan-perbedaan yang ada.

Disadari bahwa keputusan warga untuk memilih dan tidak memilih dalam setiap pesta demokrasi sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek. Pertama, aspek yang bersifat rasional (level kognitif), terkait seberapa banyak informasi yang dimiliki tentng jejak rekam calon ; Kedua bersifat emosional (level afektif), terkait seberapa dekat dan seberapa kenal dengan calon; dan Ketiga merupakan kombinasi antara keduanya yang mewujud dalam bentuk evaluasi (penilaian) terhadap calon sehingga pada akhirnya pemilih memutuskan dalam bentuk tindakan (aksi) untuk memilih atau tidak memilih.

Dalam konteks sosialisasi Pemilu,yang berbasis pada masyarakat multikultur tentunya penting memperhatikan content materi yang akan disampaikan baik dalam bentuk iklan, jingle, spanduk, baliho, flyer, poster, banner, stiker, pin, maupun dalam proses dialog dan diskusi. Penggunaan bahasa yang pas serta pemahaman kearifan lokal (local wisdom) adalah penting sehingga apa yang akan disampaikan nantiya akan dipahami dengan baik. Untuk Kota Medan yang heterogen, pemanfaatan kearifan lokal penting dan dibutuhkan terlebih jika sosialisasi dilakukan tidak hanya di komunitas dengan latar belakang etnik yang berbeda, tapi juga tingkat pendidikan, pekerjaan dan segmentasi yang berbeda. Tentunya hal ini memerlukan gaya penyampaian yang mudah dipahami dan dicerna serta tidak kaku dan formal dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami. Biasanya cara bertutur dan gestur tubuh serta penguasaan atas materi yang disampaikan juga turut memperngaruhi audiens untuk tertarik terhadap apa yang akan disampaikan oleh pembicara.

Strategi sosialisasi apapun yang akan dilakukan pada setiap momentum Pemilu atau Pemilihan pada akhirnya tidak terlepas dari tujuan akhir, yakni warga masyarakat mau hadir ke TPS pada hari Pemilihan. Oleh karenanya penting untuk menafsirkan dan memahamkan kembali kepada Publik bahwa Hari Pemilihan sebagai hari yang Sakral, sehingga setiap orang akan menjaga dan menghargai serta ikut memaknai kesakralan hari Pemilihan, tentunya dengan cara hadir ke TPS. Jika selama ini pada setiap pesta demokrasi pemerintah mengeluarkan kebijakan libur secara nasional namun sebagian warga masyarakat malah menggunakannya untuk pergi berlibur dan tidak hadir ke TPS. Desakralisasi hari Pemilihan secara tanpa sadar sudah berlangsung dan kita jalani selama ini. Hari memilih pemimpin {Pemilu atau Pemilihan} tidak lagi menjadi suatu hal yang sakral bagi sebagian masyaraat, khsusunya Inilah salah satu paradox yang mewarnai perjalanan demokrasi kita saat ini, khususnya di Kota Medan dengan tingkat kehadiran pemilih yang cukup rendah.

Kesimpulan

Sosialisasi sebagai ajang komunikasi antarbudaya dalam masyarakat multikultur merupakan sebuah realitas yang tidak bisa dihindari dan memerlukan strategi yang tepat untuk mengatasi berbagai kesenjangan dan perbedaan yang ada. Dengan demikian pemahaman latar belakang budaya dalam rangka sosialisasi memungkinkan tersampaikannya pesan dengan baik dan jelas kepada masyarakat. Strategi sosialisasi dalam rangka mensukseskan Pesta Demokrasi Pemilihan Walkota dan WakilWalikota Medan yang akan datang semestinya diletakkan dalam konteks strategi sosialisasi yang berbasis keberagaman. Artinya, dengan komunikasi yang baik dan pemahaman terhadap keberegaman dan kearifan local (local wisdom) serta dibarengi dengan proses kreatif dan inovatif dalam kegiatan sosialisasi maka out put dari proses sosialisasi diharapkan dapat maksimal dna menghasilkan pemahaman yang baik pula sehingga mampu membentuk persepsi dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mensukseskan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Medan tahun 2020 yang akan datang. Semoga

Oleh : Edy Suhartono (Komisoner KPU Medan, Kordinator Divisi SDM dan Parmas)

Artikel sudah ditayangkan di Harian Medan Pos, pada Selasa, 08 Oktober 2019

COMMENTS