permisi..kakak.
Breaking News

Latar Belakang

Kegiatan sosialisasi Pemilu pada saat menjelang Pemilu serentak Presiden dan Wakil Presiden dan Legislatif tahun 2019 intensif dilakukan oleh berbagai kalangan baik, KPU sebagai penyelenggara maupun Bawaslu serta Pemerimtah, Perguruan Tinggi, LSM, Ormas dan komponen masyarakat lainnya. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapat informasi yang utuh dan paham tentang  Pemilu serta hal hal terkait lainnya. Kegiatan ini merupakan agenda ruitn yang dilakukan pada setiap berlangsungnya kegiatan Pemilu ataupun Pemilihan.

 

Kegiatan Sosialisasi ini biasanya diselenggarakan atas kerjsama antara KPU dengan organisasi masyarakat yang nota bene memiliki konstituen dan basis massa atau lembaga swadaya masyarakat dari berbagai sektor yang umumnya memiliki kelompok dampingan di masyarakat. Kegiatan sosialisiasi pemilu juga dilakukan bekerjasama dengan perguruan tinggi dalam hal ini organisasi mahasiswa. Tujuannnya tentu tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh stakeholder lainnya.

 

Pada Pemilu serentak Preiden dan Wakil Presiden serta anggota  Legislatif tahun 2019  proses sosialisasi masih dilakukan dan melibatkan berbagai pihak sebagaimana  yang disebutkan di atas. Bahkan pada Pemilu serentak kali ini KPU juga dibantu oleh tenaga Relawan Demokrasi. Selain dilakukan diruang tertutup kegiatan sosialissai juga yang dilaksanakan  di ruang terbuka dengan menggnakan berbagai alat peraga sosialiasasi.

 

Tulisan ini tidak secara teknis dan spesifik menjelaskan  tentatng proses dan tata cara sosialisasi yang dilakukan oleh KPU, namun lebih melihat arti penting kegiatan sosialisasi dalam setiap kegiatan Pemilihan atau Pemilu. serta kaitannya dengan tingkat partisipasi politik rakyat dalam setiap kegiatan Pemilihan yang dilakukan.

 

Adalah penting untuk melihat efektifitas  dari proses kegiatan sosialisasi yang dilakukan terkait dengan momentum Pemilu maupun Pemilihan  baik yang telah, sedang dan akan berlangsung. Sehingga kegiatan sosialisasi sebagai salah satu tahapan dalam setiap pesta demokrasi benar benar bermanfaat dan tidak hanya memberi dampak positif bagi peningkatan  wawasan masyarakat tapi juga menyentuh kesadaran warga untuk mau hadir di TPS memberikan hak suaranya pada hari  Pemilihan.

 

Sosialisasi 

Sosialisasi adalah bagian dari proses belajar tentang kebudayaan dalam hubungannya dengan sistem sosial. Hal ini sebagaimana yang acap dikemukakan oleh pakar Antropologi. Dalam proses ini seorang individu dari masa anak anak hingga masa tuanya belajar pola pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang ada dalam kehidupapan sehari hari (Koentjaraningrat, hlm 229, 1986).

 

Terkait dengan proses sosialisasi pada stiap kegiatan Pemilukada, defenisi mengenai konsep sosialisasi di atas tampaknya masih relevan untuk dijadikan dasar rujukan. Paling tidak untuk menjelaskan relasi antara sosialisasi sebagai sebuah prosess sosial, dan belajar tentang budaya sebagai sebuah konsep (cultural learning process)

 

Dalam kegiatan sosialisasi Pemilu selain dilakukan dengan cara ceramah maupun dialog, juga dapat dilakukan  dengan menggunakan berbagai media dan alat peraga yang yang dipasang di lokasi lokasi yang gampang dibaca oleh publik dan bertujuan untuk menyampaikan pesan dan informasi agar  lebih mudah dipahami.

 

Secara umum biasanya proses sosialisasi lebih banyak dilakukan dengan ceramah dan dialog  dan penggunaan media sebagai alat penyampai pesan yang mau disampaikan. baik tertulis maupun lisan. Yang penting adalah pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh masyarakat dengan  berbagai latar belakang yang ada.

 

. Salah satu unsur terpenting dalam proses sosialisasi adalah dengan cara melakukan komunikasi. Dalam kaitan ini, Edward T. Hall dalam bukunya yang berjudul The Silent Language (1959) menyatakan bahwa komunikasi adalah alat yang jitu untuk menembus kotak-kotak masyarakat. Lebih jauh Edward T Hall mengatakan bahwa  kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan. Pendapat ini mempertegas bahwa suatu komunitas manusia tidak bisa terbangun tanpa adanya komunikasi. Budaya sendiri tercipta karena komunikasi yang juga terbangun dari komunitas manusia.

 

Sumatera Utara dengan latar belakang masyarakat yang sangat beragam (majemuk selain menghadapai masalah etnosentrismne, tapi juga tentunya sangat beragam dalam memahami dan memaknai masalah komunikasi maupun sosialisasi. Perbedaan itu merupakan akibat dari perbedaan adat istiadat yang dimiliki. Keberbedaan ini dapat memicu miskomunikasi bahkan pada tingkat yang paling eksterm perpecahan yang mengarah pada disintegrasi antarbudaya. Hal ini dapat dipahami berkaitan adanya permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) dan jamak (pluralistis) yang seringkali bersumber dari masalah komunikasi, kesenjangan tingkat pengetahuan, status sosial, geografis, adat kebiasaan dapat merupakan kendala bagi tercapainya suatu konsensus yang perlu disepakati dan selanjutnya ditaati secara luas. Hal inilah yang kemudian dirasa perlu untuk mengulas tentang makna-makna yang sama dalam melihat proses sosialisasi Pemilu  sebagai komunikasi antar budaya dalam masyarakat yang majemuk

 

 Tentang Multikulturalisme

Akar kata dari multikulturalisme adalah kultur atau kebudayaan. Kebudayaan adalah sejumlah cita-cita, nilai dan standar perilaku yang didukung oleh sebagian warga masyarakat. Sehingga dapat dikatakan kebudayaan selalu ada pada setiap rumpun masyarakat di muka bumi. Meskipun demikian penting untuk disadari  bahwa semua itu bukan berarti keseragaman. Dalam setiap masyarakat manusia, terdapat perbedaan kebudayaan yang khas dan unik. Kemudian kebudayaan dapat dipahami sebagai identitas suatu rumpun masyarakat bersangkutan.

 

Dalam kajian  antropologi tentang masyarakat majemuk, (atau dalam konstruksi ilmu politik disebut plural society) selalu menggambarkan bahwa multikulturalisme merupakan “ideologi” dari sebuah masyarakat yang tersusun oleh keragaman etnik karena dukungan keragaman etnik atau kebudayaan dalam arti luas. Ideologi multikulturalisme ini diartikan sebagai suatu bentuk respek yang bersifat mutualistis (saling menguntungkan) dari satu etnik kepada etnik lain.

 

Sebagai sebuah ide atau ideologi, multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupan sosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, serta kehidupan politik, maupun berbagai kegiatan lainnya di dalam masyarakat yang bersangkutan

Komunikasi Antar Budaya

Kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai “ hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal”.

 

Seorang Antropolog yang bernama E.B. Taylor (1871), memberikan definisi mengenai kebudayaan yaitu “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, lain kemampuan-kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Antropolog ini menyatakan bahwa kebudayaan mencakup semua yang didapatkan dan dipelajari dari pola-pola perilaku normatif, artinya mencakup segala cara atau pola berpikir, merasakan dan bertindak (Soekanto, 1996:189).

 

Terkait dengan  komunikasi antar budaya, maka definisi yang dikuti oleh Ilya Sunarwinadi (1993:7-8) berdasarkan pendapat Young Yun Kim (1984) menyatakam bahwa komunikasi antar budaya adalah suatu peristiwa yang merujuk dimana orang – orang yang terlibat di dalamnya baik secara langsung maupun tak tidak langsung memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

 

Definisi diatas dengan jelas menerangkan bahwa ada penekanan pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi antar budaya. Komunikasi antar budaya memang mengakui dan mengkaji permasalahan mengenai persamaan dan perbedaan dalam karakteristik kebudayaan antar pelaku-pelaku komunikasi, tetapi titik perhatian utamanya tetap terhadap proses komunikasi individu-individu atau kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk melakukan interaksi.

 

Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya, seperti yang dikatakan Edward T.Hall, bahwa ‘komunikasi  adalah budaya’ dan ‘budaya adalah komunikasi’.

 

Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.

 

Jadi jelas bahwa proses sosialisasi yang disampaikam oleh pihak yang terkait adalah dimaksudkan agar masyarakat dengan latar belakang yang berbeda paham apa yang akan disampaikan baik dengan menggunakan bahasa maupun simbol serta tata cara yang telah ditetapkan..Intinya adalah agar proses sosialisasi lebih gampang dimengerti dan dipahami maka perlu dissuiakn dengan karakteristik masyarakat ataukomunitas yang akan menjdai target sosialisasi. Dengan demikian maka dapat dijembatani perbedaan-perbedaan yang ada sehingga pesan yang disampaikan  oleh komunikator dapat dimengerti dan dicerna secara baik oleh komunikan.

 

. Komunikasi yang efektif hanya akan terjadi manakala dua pihak memberikan makna yang sama atas pesan yang mereka pertukarkan. Sebaliknya, komunikasi yang kacau membawa perbedaan pendapat, yang mengakibatkan salah komunikasi dan salah pengertian sehingga mengaburkan pesan makna yang akan disampaikan.

 

Komunikasi antar budaya merupakan usaha untuk menghargai budaya lain apa adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki. Dengan demikian, kita dapat menghindari kesalahpahaman. Artinya kita sudah berusaha meminmalisir potensi salah mengerti  yang mengarah pada kekaburan informasi yang akan disampaikan.  Oleh karenaya kita harus yakin bahwa proses sosialiasasi yang dilakukan dengan menggunakan bahasa dan tata cara yang sederhana merupakan salah satu kunci agar pesan dan informasi akan lebih mudah diterima dan dimengerti oleh komunikan/audiens. Dengan adanya pemahaman yang baik akan mendorong munculnya  partisipasi politik. Sehingga sosialisasi dalam kegiatan Pemilu tidak lagi dilihat sebagai sebuah proses instruksi atapun  mobilisasi.

 

Disadari bahwa keputusan warga untuk memilih dan tidak memilih  dalam setiap pesta demokrasi sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek. Pertama, aspek yang bersifat rasional (level kognitif), terkait seberapa banyak informasi yang dimiliki tentng jejak rekam calon ; Kedua bersifat emosional (level afektif), terkait  seberapa dekat dan seberapa kenal dengan calon; dan  Ketiga merupakan kombinasi antara keduanya  yang mewujud dalam bentuk evaluasi (penilaian) terhadap calon sehingga pada akhirnya pemilih memutuskan dalam bentuk tindakan (aksi)  untuk “memilih atau tidak memilih”.

 

Dalam konteks sosialisasi Pemilu, tentunya penting memperhatikan content materi yang akan disampaikan baik dalam bentuk iklan, jingle,  spanduk, baliho, flyer, poster, banner, stiker, pin,  maupun dalam proses dialog dan diskusi. Penggunaan local wisdom (kearifan lokal) penting sehingga apa yang akan disampaikan dengan baik. Untuk Kota Medan yang heterogen, pemanfaatan kearifan lokal sepertinya masih dibutuhkan terlebih jika sosialiasasi dilakukan di komunitas dengan latar belakang etnik dan tingkat pendiidikan yang berbeda. Tentunya hal ini harus dibarengi dengan gaya penyampaian yang mudah dipahami dan dicerna serta tidak kaku dan formal. Biasanya cara bertutur dan gestur tubuh turut memperngaruhi audiens untuk tertarik terhadap apa yang akan disampaiikan oleh pembicara.

 

Strategi sosialisasi apapun yang akan dilakukan pada setiap momentum Pemilu atau Pemilihan  pada akhirnya tidak terlepas dari tujuan akhir, yakni warga masyarakat mau hadir ke TPS pada hari Pemilihan. Oleh karenanya penting untuk menafsirkan dan memahamkan  kembali kepada Publik bahwa Hari Pemilihan  sebagai hari yang Sakral,  sehingga setiap orang akan  menjaga dan menghargai serta ikut memaknai kesakralan hari Pemilihan, tentunya dengan cara hadir ke TPS. Jika selama ini pada setiap pesta demokrasi pemerintah mengeluarkan kebijakan libur secara nasional namun sebagian warga masyarakat malah menggunakannya untuk pergi berlibur dan tidak hadir ke TPS. Inilah salah satu paradox yang acap mewarnai pesta demokrasi demokrasi di Kota Medan dengan tingkat kehadran pemilih pemilih yang cukup rendah.

 

Kesimpulan

Sosialisasi sebagai ajang komunikasi budaya dalam masyarakat multikultural merupakan sebuah harapan dari masyarakat yang tersusun oleh keragaman etnik. Untuk mendapatkan gambaran proses pemilu sebagaimana yang diinginkan oleh semua pihak terutama KPU yang berkepentungan agar Pemilu berjalan lancar dan sukses dengan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi.

Untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ada antar etnis, adat, agama, tingkat sosial tersebut adalah dengan cara melakukan komunikasi antar budaya Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Dengan demikian pemaham latar belakang budaya dalam rangka sosialisasi  memungkinkan tersampaikannya  pesan dengan baik dan jelas kepada masyarakat. Dengan komunikasi yang baik dan pemahaman terhadap kearifan local (local wisdom) serta dibarengi dengan proses kreatif dan inovatif maka proses sosialisasi diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang baik pula sehingga partisipasi masyarakat dalam mensukseskan Pemilihan atau Pemilu dapat terus menngkat dan menjadi lebih baik. Semoga

 

Edy Suhartono

Anggota KPU Medan, KorDiv Sosialisasi, SDM dan  Parmas

       

Timber by EMSIEN 3 Ltd BG
Perbesar Huruf
Pilih Warna Kontras
error: Maaf ya??